Senin, 22 September 2008

Nuniek Silalahi; Perias Lintas Generasi


Jelas, dari membaca judulnya saja kita akan berasumsi jika si perias tersebut tidak bisa lagi diremehkan perihal jam terbangnya. Siapa dia dan bagaimana kisah suksesnya? Berikut kisah sukses Nuniek Silalahi yang sukses menekuni jasa wedding service, terutama merias pengantin.

UNTUK pertama kalinya di tahun 2008, Nuniek Silalahi membuka galerinya di Setelah sebelumnya selama puluhan tahun ia menggeluti usahanya tersebut di tempat tinggalnya di kawasan Semolowaru Tengah. Usaha pertama kali yang diseriusi oleh Nuniek yaitu usaha salon rambut sekalian dengan make up. Namun senyampang dengan itu sesekali Nuniek memberikan pula pelayanan untuk pernikahan. Sementara untuk baju-baju pernikahan ia meminjam kepada seorang kawan baiknya.

Setelah sekian tahun berproses menggeluti jasa salon serta pernikahan, maka tepat tiga tahun yang lalu Nuniek memberanikan diri lebih konsen melayani jasa wedding. “Jumlah klien yang datang ke salon maupun yang meminta jasa wedding tetap sama saja. Tetapi demi memberikan pelayanan yang lebih kepada klien wedding, maka saya putuskan tiga tahun terakhir lebih mengutamakan mereka,” pungkas wanita separuh baya yang masih terlihat cantik itu.

Walau demikian, salon tetap dijalankan oleh murid-murid dia, dan tempatnya tidak berjauhan dari rumah. Sebab kalau dikerjakan bareng di satu tempat terasa sulit. Klien yang datang ke salon umumnya para perempuan tersebut tentu minta privacy, mereka tidak mau kalau pakai kemben pas tengah di-crembath lalu ada lawan jenis yang berada di sana juga. Sementara, para lawan jenis itu tak dapat ditolak kedatangannya oleh Nuniek pasalnya mereka adalah para calon pengantin yang datang bareng pasangannya untuk memesan jasa wedding milik Nuniek.


Generasi ke Generasi

Tentu karena pelayanan yang telah diberikan kepada para kliennya itu lah yang tidak sekadar isapan jempol belaka. Menjadikan jasa riasan Nuniek tetap dicari-cari. Buktinya dari generasi ke generasi Nuniek dipilih sebagai perias pengantin oleh beberapa keluarga di Surabaya ini. Contohnya adalah pada tahun 1975 Nuniek dipercaya merias pasangan Prof. Dr. dr. Sutjipto dan dr. Herlina. Lalu selama tiga puluh dua tahun kemudian, jasa Nuniek dipercaya kembali untuk merias putra pasangan dari keduanya tersebut, yaitu Wiena dan Teguh. Di tahun yang sama tahun 1975 dan tiga puluh dua tahun setelahnya, masing-masing Nuniek pernah memberikan jasa riasan kepada pasangan Ir. Haryahdho dan Maryani (orang tua), Dhimas dan Arie ( anak).

Sekali lagi, pada tahun 1978 Nuniek menjadi perias pasangan Ramamurthy dan Sri Murniati. Menyusul setelah itu, tiga puluh tahun berikutnya, kembali jasa rias Nuniek digunakan oleh pasangan Aryo dan Saskia. Sementara pasangan muda Aryo dan Saskia tersebut adalah buah pasangan dari Ramamurthy dan Sri Murniati.

Menurut Nuniek tak ada yang berubah secara dominan pada tata riasan yang disapukan kepada para pengantin sebagai kliennya itu, dari dulu sampai sekarang. Pasalnya, ia selalu berpegang teguh pada pakem riasan yang sudah ada sejak puluhan tahun tersebut. Dengan konsisten mengikuti pakem serta berani mengekplorasi diri dengan daya kreativitas, hasilnya riasan Nuniek tak ada bandingnya dengan yang lain. Selalu ada ciri khas yang menonjol. Lebih lagi kemampuan menyapukan riasan di wajah para pengantin tersebut ia gunakan dengan segenap rasanya. Maklum saja, pasalnya Nuniek memiliki bakat hebat sebagai pelukis sejak ia masih kanak-kanak dahulu. Maka ketika media lukisnya bukan lagi kanvas, Nuniek tetap bersemangat dan mampu menyalurkan kreativitasnya.

Tradisional

Keunggulan jasa pernikahan yang diberikan oleh Nuniek adalah pernikahan tradisional. Pastinya tidak tradisional Jawa saja karena tradisional dari Sabang sampai Merauke, Nuniek mampu memberikan pelayanan tersebut. Diakui oleh perempuan yang selalu tampak sabar dan penuh kelembutan tersebut, kelebihannya bisa memberikan jasa pernikahan tradisional seluruh Indonesia tersebut, ia dapatkan dengan menjelajahi Indonesia ketika dia masih aktif bekerja di perusahaan Puspita Martha sebagai area promotion manager. Sungguh keuntungan saat bergabung bersama Puspita Martha tidak saja dapat berjalan-jalan keliling Indonesia secara gratis, tetapi ia juga merasa selalu ada keilmuan yang ia dapatkan. Misalkan saja ia mendapatkan training gratis seputar treatment spa, dll.

Mengingat konsentrasi Nuniek pada arah tradisional untuk jasa pernikahannya, maka sehubungan dengan itu ia menamai galerinya dengan nama Citra Retna juga bukan karena alasan enak disebut saja. Nuniek menuturkan sebagai berikut,” Citra Retna mempunyai makna sebagai “pencitraan keindahan”.

Aroma ketradisionalan apabila Anda datang ke galeri Citra Retna yang ada di Empire Palace tersebut akan segera tercium, seperti detail ekterior dan interior yang menghias, ditambah pajangan kain-kain batik dari seluruh Indonesia yang juga ditawarkan kepada pembeli, sekaligus suguhan etelase dengan ragam kebaya hasil besutan sang adik yang namanya juga tidak asing ditelinga pecinta kebaya Surabaya – Ratih Su. Menarik nih untuk dikunjungi, lalu kapan Anda menyempatkan untuk datang ke sana? (wie/adv)



0 komentar:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com